PG 13 Rated

August 25th, 2008 by misstara

"..coba aja itung mbak, dari rumah ke sekolah pasti banyak toko obat kuat..!!
Terus yang paling sering ya yang ditempelin di tiang-tiang listrik itu!
Spontan!! Besar-panjangkan alat vital!! Bisa Dipanggil. HP:08….."
Itu iklan porno bukan sih mbak?"

Kalo readers jadi saya, apa jawabannya??

Saya sendiri geleng-gelengkepalasambiltersenyum, melihat dek Tyas dari spion motor.

Ohh gitu tho ternyata, di tengah kehidupan yang semakin berorientasi bisnis seperti sekarang ini, apa aja bisa diiklankan, include bagian tubuh yang paling pribadi sekalipun.

Ahahaha.. saya tersenyum lagi, selain porno (atau seronok? ahh sama aja lah) those advertorials can reveal many things, antara lain, kecenderungan modern people dalam hal ‘begituan’ yang mundur kembali ke alam binatang.

Ya ya..mitos mengenai sensahi birahi sepertinya malah lebih subur di tengah modern society seperti sekarang ini. Malah saking suburnya, orang dengan sukarela menembus dan masuk kembali ke wilayah primitif kebinatangan. Padahal kita sudah berproses meninggalkan dunia kebinatangan menuju wilayah kemanusiaan selama ribuan tahun. Am I right?

Atau,inikah salah satu fakta ironis dalam peradaban manusia? Ya manusia maju dalam hal ilmu dan teknologi, tapi dalam hal birahi? Agaknya manusia mengalami anomali. Soal ‘begituan’ manusia belum beranjak jauh dari dunia primitif primata. Malah, makin banyak orang berpendapat, makin membinatang perilaku ‘begituan’, dianggap makin modern.

Ngawur? Gak juga ah.. The facts can be the witness as well. Those who had visited cafes with their ‘live shows’, those who had read The Jakarta Undercovers, The Innocent Rebel (mana buku2-ku? Khusyuk amat bacanya :)), those who had came to the sex shop; jelas kan kalo untuk hal ‘begituan’, modern people makin cenderung ke hal primitif. Jadi masih pantaskah kita (gak rela juga nulis ‘kita’, tapi demi persatuan dan kesatuan hehe) disebut sebagai homo sapiens (manusia berbudaya) atau lebih pas dengan sebutan phytecantropus erectus (manusia setengah monyet yang berjalan tegak)?

Besok deh, saya coba hitung ada berapa toko obat kuat, iklan pil biru, en iklan ‘itu tuh’ di tiang listrik sepanjang saya berangkat dari rumah ke sekolah tempat saya mengajar. Kayaknya, akan lebih dari 20 ya?? Apalagi di prumpung..;)

En siapa tahu hasilnya bisa jadi bahan skripsi saya.. Hehehe…

*gak nyambung*

This is just to say…

July 13th, 2008 by misstara

Ketika ada orang yang sanggup menghabiskan uang (orangtua)nya 2 juta dalam waktu 1/2 jam, teman saya yang lain putus sekolah hanya karena tidak sanggup membayar iuran 2 bulan sekolahnya..

Ketika ada orang yang sibuk membicarakan mau kemana liburan semester ini, teman saya yang lain bingung bagaimana caranya membayar uang semester depan..

Ketika ada orang yang dengan mudahnya menggesekkan kartu kredit (orangtua)nya, teman saya yang lain habis masa kontrak kerjanya dan ia terancam putus kuliah..

Ketika ada orang yang sibuk membicarakan dress terbaru keluaran butik anu, ada orangtua yang sibuk mencarikan seragam bekas untuk anaknya..

Ketika ada orang yang bisa menghabiskan setengah juta hanya untuk dine in di resto favoritnya, ada juga orang dengan sabarnya menunggu penumpang motornya selama berjam-jam hanya untuk selembar lima ribuan demi kelanjutan sekolah anaknya..

Ketika ada orang yang berencana menghabiskan hari liburnya dengan menonton film di bioskop seharian nonstop, ada orang yang kelimpungan mencari pinjaman uang untuk daftar ulang anaknya..

Ketika ada orang yang mau membayar puluhan juta demi masuk ke SMA negeri yang kata orang-orang favorit, ada pula orang yang hari ini pun belum tahu kemana anaknya harus sekolah karena mahalnya uang pangkal..

Besok, hari pertama sekolah dimulai. Tiap tahun selalu ada cerita miris tentang sekolah. Well ya, cerita diatas terjadi di sekitar saya. Menutup mata, telinga apalagi hati untuk itu rasanya sangat sulit..

Sudah, sampai sini saja cerita saya. Air mata ini mau saya simpan nanti untuk mengadukan cerita itu pada Nya. 

Selamat datang wahai pencari ilmu! Sungguh, pencari ilmu dinaungi malaikat dengan sayap-sayapnya, kemudian mereka bertumpuk satu di atas lainnya sampai mencapai langit dunia karena kecintaan mereka kepada upayanya menuntut ilmu

(H.R Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, Hakim dan Ibnu Majjah)

Persembahan buat Ibu

May 30th, 2008 by misstara

Ibu………
Kau telah selangkah lebih dahulu
meniti perjalanan
Perjalanan yang begitu panjang
yang  ujungnya teramat jauh ……
……… dan meletihkan.

Memang benar Ibu……………
Perjalanan tidak selamanya mulus dan rata
Kadang jurang menganga … menghadang
Badai mengamuk……menerjang

Namun Ibu …………
Langkahmu begitu pasti  ……… Dalam keyakinan!!
Kau ajarkan  ‘tuk menapakkan kakiku……
berpijak  teguh di bumi.
Kau tanamkan di hatiku arti
sayang  menyayangi
Kau tunjukkan arah dari
semua perjalanan ini………
………kepada Nya !!

Dia lah yang menjadi tujuan
dari perjalanan kita.    
Dia lah yang memudahkan
semua urusan kita.
Dialah yang menanggung
segala perbekalan kita.
 
Pernah kurasakan Ibu………
Didalam kesakitan
Didalam kesendirian
Didalam kepedihan
Tiada yang mengobat
Tiada yang menatap
Tiada yang mendekap
Hanya kekebalan
Hanya keberanian
Hanya kesabaran
Akhirnya kuturutkan kata hatiku
Tuk mengadukan semuanya kepada Nya.
Ar Rahman …Ar Rahim
Lalu kusujud……dan ………
Pedihpun sirnalah ……ditelan kekhusyukan.

Ibu……
Kepadamu kupersembahkan
Citraku……
Cintaku………
dan Do’aku.

Books vs Lifestyle

May 1st, 2008 by misstara

Is it true that life style can eliminate the literary culture?

Para pembela perbukuan kerap prihatin betapa buku ternyata diperkirakan mudah kalah oleh ‘pesaing lain’ yang berusaha menjauhkan mereka dari buku. Mereka agak yakin bahwa lifestyle adalah ‘penyebab’ yang menggerogoti perkembangan literary culture. Dampaknya ya buku tersingkir jadi favorit, membuat buku masuk dalam prioritas bawah kebutuhan hidup…

Comparing book with lifestyle is a kind of cliche, termasuk dengan menilai bahwa buku lebih ‘mulia’ daripada lifestyle. Both have latar belakang panjang dan mengakar: Fungsi dan kelebihan masing-masing. Both are born because of innovation, technology, and society’s demand.

I myself rather ignorant to the the up-to-date lifestyle, but for some reasons, it is kind of hard to avoid myself from the attack of lifestyle.

Thus, I don’t mean that lifestyle has become one of perusak masyarakat untuk gemar membaca. Sometimes, books’ trend can change passionately or even massively. Still, many people consider that Pesta Buku Jakarta, Islamic Book Fair, or whatsoever is the sign that book has a great demand from today’s society.

Digibookgallery.com menerbitkan buku digital  yang bisa dibaca di HP, PDA, notebook, dan PC__ saya rasa itu tanda zaman sudah berubah. Melihat itu, rasanya malu menyalahkan lifestyle sebagai alasan orang malas beli buku.

Keprihatinan tersingkirnya buku oleh lifestyle probably malah membuat buku akan semakin sulit dijangkau. Banyak yang suka baca, tapi unable to afford the book. Mungkin kuncinya adalah mendekatkan books pada society, so that they can access and own them, therefore will create a society which has greater demand into books.

All in all, tentunya industri buku harus lebih halus bersiasat menghadapi zaman, harus lebih mau belajar cara memasukkan ide buku kepada banyak orang ke balik-balik lifestyle, mengukuhkan buku sebagai bagian essensial kehidupan, tanpa perlu digerogoti lifestyle.

Sweeney Todd

April 1st, 2008 by misstara

Yippie… Nonton film ini juga akhirnya.. Kemarin iseng jalan-jalan sama Mei n Windy, nemu deh cakram-nya. The setting was cool, the actress was stunning, the story was great!!

Tim Burton selalu menampilkan roh film yang  sama, pendarahan atau sadis yang tinggi dalam latar romantisme (Gothic?), mengeluarkan ‘puitis’ dalam kekalutan atau kegelapan manusia secara sengaja atau tidak. Lihat saja sebuah babak yg menyentuh dalam hentakan darah sewaktu Vincent Price dicucuk oleh Edward Scissorhand menembus hati yang dibuat untuknya, atau sweet scene Winona Ryder bersama penjaga hantunya sewaktu Bettlejuice ditelan ular, atau bagaimana dengan ‘gloom’ para penguin mengangkat Danny De Vito masuk ke dalam parit untuk hilang selama-lamanya. Ini adalah paparan-paparan hati ‘striking-black’ Tim Burton.

Tetapi buat film ini, Tim Burton berani menjangkau alam ‘gelap’nya dengan lebih jauh lagi. Kini darah dalam film Burton betul-betul darah, walaupun ‘cartoonic’, hentaman ganasnya ada dan melebihi mainan darah Kill Bill.

Johnny Depp dan Alan Rickman. Nah, Om Depp berperan sebagai Benjamin Barker aka Sweeney Todd, a barber. Nonton film ini seperti nonton Harry Potter. Selain Alan Rickman (HP: Prof. Snape) dua pemain utama lainnya adalah Helena Bonham Carter (HP: Belatrix Lastrange) dan Timothy Spall (HP: Peter Petigrew).

Film ini seperti reunion antara Tim Burton sama Johnny Depp setelah mereka berhasil bikin Musical Thriller - Sleepy Hollow.

Saat film dimulai saya ketawa. Saya ga terbiasa nonton Musical Thriller. Hehe ketahuan deh saya belum nonton Sleepy Hollow. Difilm ini ada hal2 gelapnya ada ketawa - ketawanya. Hal lain yang bikin saya tertawa:

- Saat Sweeney baru sampe di Mrs. Lovett’s pie’s parlor. Jijik campur lucu.

- Parelli (Barber yang ngakunya asal Itali) tampangnya mirip banget sama John Galliano. Jangan jangaaaaaan. Hehehehe beneran lagi` itu John Galliano? Nah saya belum sempet search di Google.

- Saat scene pertama Alan Rickman (dengan rambut aslinya). Celananya itu lo.. .Ah.. sok atuh ditonton sendiri.

- Saat Johnny Depp adu nyanyi sama Timoty Spall. Lucu… banget. Apalagi buat yang dah kena chemistry bang Depp.

- Saat Mrs. Lovett membayangkan hidupnya kelak dengan Sweeny Todd.

Terus… seperempat film terakhir adek-adek saya gak berani liat layar..Hmmmm, kalo mo iseng, silahkan nonton. Tapi… buat penggemar Johnny Depp sih it is a must.

PS: dek tyas, mantab juga rekomendasi lo, asal jangan lupa “bayar” yak.. Ayo cari Sleepy Hollow..!!

Eniwei masih ada film2 yg belum sempat ditonton, ntar ya kalo dah nonton saya buat lagi resensinya.

When Tara meet regret

April 1st, 2008 by misstara

Dennis Waitley pernah bilang (bukan ke saya langsung siyh, he..): "Bahkan orang yang berpandangan luas pun terkadang buta terhadap peluang".

Ah masak, memang pernah ada kejadiannya?

Pernah dengar kisah suksesnya Alexander Graham Bell? Kalau belum niyh saya ceritain..

Dulu, seorang lelaki bertamu ke rumah Mark Twain (penulis terkenal itu lowh..). Sambil membawa alat yang tampak asing ditangannya, dia mengajak Twain membiayai proyeknya. Lima ratus US dollar yang ia harapkan dari Mark Twain. Dengan antusias, si lelaki pemilik alat yang belum populer pada saat itu menuturkan kegunaanya. "Ini bukan cuma proyek untung-untungan, Twain" (kalau dia bisa bahasa Indonesia mungkin dia ngomongnya seperti itu he..) Twain mendengarkan dengan santun, tapi siyh sebenernya dalam hati dia bilang " Apa-an sih lo Bell, yang aneh-aneh aja deh. Ngimpi lo ya?"

Twain lama-lama udah sebel dengar penjelasan si tamu itu, sampai suatu ketika pada akhir pertemuan dan Twain membukakan pintu pulang ke tamu-nya dan Twain bertanya ke tamunya: "Hei Bung, sorry tadi saya lupa, nama anda siapa?" dan si tamu jawab:"Bell, Alexander Bell"

Twain, dengan wawasannya yang luas pun gak mampu menangkap peluang yang hadir di depan matanya melalui Bell. Ia pun menolak alat yang kemudian bakal jadi alat komunikasi suara. Iya, telepon itu lah mesin yang di jinjing Bell ke rumah Twain benar-benar bukan cuma MIMPI(lagunya Anggun he) atau ilusi.

Atau pernah dengar ceritanya Kolonel Sanders? Waktu ia menawarkan resep ayam goreng ke customer-customernya, mereka pikir apa siyh istimewanya ayam pakai tepung doang?

Tapi, setelah beribu penolakan akhirnya beken-lah ayam goreng tepungnya Kolonel Sanders (sayang waktu itu Mbok Berek ato Ny.Suharti belum lahir, jadi keduluan ya mbah putri??) he..

Nah, sebenarnya persoalan mereka (I mean Twain and ribuan calon customer ayam goreng tepung) adalah ketidakakuratan menyeleksi data. Memang gak bisa dipungkiri kalau wawasan kita gak pernah sampai pada titik yang memadai buat segala hal. Bahkan perusahaan dengan kerumunan orang-orang jenius pun gak luput dari persoalan itu.

Mau contohnya lagi?

Dulu pernah Rolls R**ce salah ‘kaprah’ (apa ya, bukan salah kaprah sih, hmmm.. ya udah salah kaprah aja deh) waktu launch produk (mobil loh, bukan coklat he) mereka di Jerman. Rolls R**ce meluncurkan mobil dgn tipe Silver Mist, padahal Mist di Jerman artinya pupuk. Terus ada lagi waktu Chevr*l*t meluncurkan Chevr*l*t Nova di Spanyol, salah lagi karena nova disana artinya "jangan pergi". Yang lumayan parah, Waktu McD keliru mamadankan kata Big Mac dengan le Gran Mec di Perancis..yang berkaitan dengan.. mucikari.

Dan seperti mereka yang namanya telah disebutkan diatas, saya pun sering tidak akurat dalam menyeleksi ‘data’ dan buta terhadap peluang-peluang yang mampir di hadapan saya.

*Tuh kan nyesel kan.. T_T*

NB: kejadian2 yang membuat penulis blog menyesal sengaja tidak ditampilkan demi menjaga kerahasiaan he..__peny

Gotcha!!!!!

March 26th, 2008 by misstara

Judul thread diatas bukan merupakan title movie review salah satu film yang pernah meramaikan dunia perfilman Indonesia beberapa tahun silam. Bukan..Kalau bisa dianalogikan mungkin akan sedikit mirip ketika Matta B#^d menyanyikan awal refrain lagu hits-nya. Gak usah disebut ya judulnya, blog reader(s) pasti juga tahu hehehe

Jadi intinya, saya berhasil memecahkan misteri, finding the missing puzzle, seeing the light atas siapa “kamu” yang telah menghantui, meneror saya beberapa bulan belakangan ini!

Kejadian bermula ketika saya dan teman-teman mengadakan acara yang melibatkan cukup banyak orang di bulan yang penuh berkah. Persiapan sudah matang, acara berjalan lancar. That’s all wrapped. Namun, diakhir acara message alert HP saya berbunyi. Selayaknya HP owner yang lumayan lalim-jika ada SMS masuk cepat-cepat dilihat tapi kalau waktu solat yang masuk tidak pernah cepat-cepat solat- saya pun membaca new message itu dan terdiam ketika tahu isinya makian dan umpatan (yang sudah pasti kasar) atas acara yang menurut SMS’ sender itu #$@!^7*%#^*@&*^ Niet belangrijk!

Wow..’twas simply irressitable. Pintar juga memancing emosi saya. Jadi supaya bukan hanya emosi saya saja yang terpancing oleh dia yang namanya tak boleh disebut disini, I opted to tell others. Lumayan juga, berbagi emosi. Seketika malam itu berubah jadi sedikit hangat akibat akumulasi emosi dari semua in that place.

Penasaran, I called the suspect. Still (s)he said nothing. Yang ada hanya backsound acara TV-mungkin teroris itu TV mania-. Sampai disitu saya memutuskan untuk menghentikan rasa penasaran saya.

The trepidation haunted me every month. I couldn’t resist that. Sebulan lalu kesabaran saya mulai habis akan masalah ini. Saya mulai menyelidiki siapa sih “kamu”, wahai teroris? Akhirnya, hari ini, saya pun TAHU siapa “kamu”! Yay…!!!

Dan terakhir, buat “kamu” teroris, tenang, saya tidak akan pergi ke Banten untuk meminta kamu disantet, atau ke Bali supaya kamu trance, atau ke Haiti untuk menemui voodoo dan memintanya membuatkan voodoo doll untuk kamu, tidak, karena saya tidak punya cukup uang untuk itu..He..

Saya doakan kamu supaya kamu senantiasa dibimbing ke jalan yang lurus. Sebab jalanmu masih panjang. . Oh ya kalau sempat dan kalau suatu saat nanti kamu buat account di Friendster dan melihat profile dan blog saya, ya ini saya “kasih” buat “kamu”. Dan kalau “kamu” sempat juga, coba deh baca doa ini:

Allahumma alhimni rusydi wa a idzni min syarri nafsi.
Doa itu bagus supaya kamu diberi kecerdasan dan dijauhkan dari nafsu buruk.

Tapi saya yakin, perbuatan “kamu” itu buka atas inisiatif “kamu” kok. You’re too young to do such an awful thing dear. Beritahu orang(orang) yang meracuni “kamu” untuk baca doa itu juga ya..Okay..

PS: gosok gigi dan cuci kaki, terus cepet bobo ya, besok kamu sekolah kan?? Udah dikerjain kan PR kamu?

Salam “manis” dari mbak Tara…

Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Q.S 17:81)

I suppose to be in bed this night..

March 21st, 2008 by misstara

Then why can’t I sleep?

Insomnia lagi kah??

Masalah?? iya..

Pikiran?? juga iya..

I mean it related to the ideas which are suddenly come up exactly when I started to close my eyes

Unstoppable ideas.. ide2 yang sering membuat saya lelah karena kemampuan terbatas saya membuat saya tak bisa mengejar semua ide yang menghampiri.

Anxiety, ya… terkait banyak hal… atau justru antusiasme, lagi2 terkait banyak hal…

Ada saat2 saya ingin sekali tidur. Tight sleep Tidak usah lama2, just two-hour-good-night’s sleep… sejam pun boleh..

Sleeping, and not just closing my sour eyes

And now, I can’t sleep

Saya coba menganalisa kenapa saya tidak bisa tidur.

Saya coba kenali perasaan saya saat ini:

- there’s sorrow

- there’s regret

- there’s anxiety

- there’s incapability

Padahal sudah Bulan Maret lagi… dan saya masih belum bisa memberikan persembahan yang lebih baik kepada-Nya.

I supposed I could do it..

seandainya saja saya me-manage waktu dan pikiran saya lebih baik. I wish I could..

Kekecewaan …karena saya belum bisa jadi manusia yang lebih baik di hadapan-Nya.

Hhh…begitu banyak angka merah dalam raport saya di hadapan-Nya. Amalan2 sunnah yang harus dikejar dan kerap kali kalah oleh keletihan…

Pahala yang tidak pasti tiap hari mengalir, namun dosa yang kecil atau besar rasanya pasti bertambah… :(

Kesibukan, waktu yang saya rasa memerangkap saya hingga saya sering ‘lupa’ Saya sungguh2 lupa waktu.

Dan sebentar lagi bulan berganti…

Tara akan semakin tua he..:)

Namun tidak menjadi tR yang lebih baik…

Waktu tidak mengasah saya untuk menjadi lebih bijak…

No no no, bukan salah waktu…

salah saya yang tidak memanfaatkan setiap waktu untuk menjadi sedikit lebih bijak…to be a better (wo)man

Saya kecewa pada diri sendiri. Saya marah, sebab saya tidak juga menjadi PEREMPUAN CERDAS yang terhindar dari melakukan kebodohan2…

Hmmm… Saya sedih, karena ketidakberdayaan saya untuk berbuat lebih bagi sekitar…

Another day, another month…

Bertambah umur Makin dekat ke liang kubur… (I’m not afraid to die. I just don’t want to be there when it happens..Hehehe.. )

Tapi belum banyak kebahagiaan yang bisa saya berikan kepada orang-orang sekitar… since it is in giving, we mean the ability to give another person pleasure.

Bulan Juni sebentar lagi… :) He..

Bahagiakah saya karenanya? Berpestakah saya?

Tidak, sebab saya tak punya sesuatu yang bisa saya banggakan untuk menyambutnya…

Lebih banyak kekecewaan akan sederet ketidakberdayaan. .. Incapability to manage myself

Incapability to do sth and to give sth to others

Banyak orang susah di sekeliling saya

Banyak anak-anak jalanan yang berhenti sekolah atau mengandalkan dana sekolah mereka, dari ojek payung di musim hujan… atau semir sepatu, or selling newspaper…atau mengamen di lampu-lampu merah… atau mencoba menguras iba demi uang tak seberapa…

Dan dari dulu I just have dreams

Mimpi untuk membantu mereka yang putus sekolah

Saya punya mimpi bisa memberikan penyuluhan pada parents di daerah2 kolong jembatan atau minus lain agar mereka mengerti arti anak2 mereka…agar mereka lebih melindungi dan tak lagi bicara dengan bahasa tangan…

One year elapsed

And that was just dreams

Dreams which are might be if my time added up one year or even two or three years Still turn out to be unfulfilled dreams :(

Seeing sky, saya membayangkan di pelosok2 negeri ini anak2 negeri kita, yang cerdas, yang ingin sekolah, yang ingin jadi orang…

But they haven’t enough power

Dan berapa dari mereka yang bisa saya bantu?

Saya tersandung kata itu lagi,

Incapability

Dear Allah

I’m sorry

For many mistakes

And displeasure I may “give” to Thou

I’m sorry

Please Give me power,

And time, and chances.. .

So that I could not just dreaming

Who am I?? To be value or judge person?

March 21st, 2008 by misstara

Siapa saya?? Yang menilai atau menghakimi seseorang??

We sometimes hear that saying. Or even we sometimes say it.
Ketulusan adalah sesuatu yang seharusnya juga kita masukkan dalam kalimat di atas.
So, wholly, the saying will be:

Siapa saya yang bisa menilai ketulusan seseorang, atau menghakimi tulus tidaknya seseorang??

Seperti juga keikhlasan, ketulusan (which I consider as a part from Ikhlas) is something which doesn’t have standard measurement.

Lalu, apa indikator seseorang tidak tulus?
Apa indikator seseorang tulus?
I dunno for sure. Saya lebih khawatir pada kesalahan saya mengenali bentuk ketulusan, dibandingkan mengkhawatirkan ketulusan orang-orang yang memasang wajah tulus dihadapan saya.

Why?
Sebab, apakah mereka tulus atau tidak, that’s none of my business.
Jika mereka tidak tulus, maka itu TIDAK akan merugikan saya…tidak membuat saya menjadi orang yang lebih besar atau menjadi orang yang lebih kecil.
Sebab kita sendiri yang menentukan akan jadi manusia yang lebih besarkah kita, atau sebaliknya..
Bukan orang lain..

Let’s consider someone give us a praise:
"Wah, mbak cantik. Lebih cantik dari yang saya kira.."
"Mas baik sekali.."
Were they being honest saying that?

Ah, apa artinya mereka tulus ketika memuji atau tidak?
Sebab toh jika mereka tulus, pujian tersebut tidak membuat kita bertambah cantik, tidak membuat kita bertambah baik..
Adapun jika mereka hanya mencari bahan obrolan, atau berusaha lebih dekat, atau mengambil hati kita dengan kalimat itu, saya rasa ini kreativitas seseorang yang tidak menyakitkan..
Bagaimana jika mereka mengatakan hal itu justru untuk mengecilkan hati kita? Jahatnya begitu..Sebab kita yang tiap hari bercermin tau betul apa kata cermin tentang diri kita. Dan kita misalnya sama sekali tidak masuk kriteria cantik secara fisik, apakah kita harus merasa sedih atau marah karena mereka tidak tulus? Justru mungkin diam-diam menertawakan diri kita di belakang?

Ah, terus kenapa jika mereka memang menertawakan kita, jika mereka tidak tulus? Apakah kita menjadi lebih kecil dan tidak berarti?
Of course not.

Arti diri kita, nilai diri kita, kita lah yang menentukan.
Sepenuhnya ditangan kita. Bukan ditangan orang lain.

"Dia bilang saya hebat. Padahal dia tahu proyek saya gagal"
"Dia cuma pura-pura manis didepan saya. Padahal maksudnya.."

Katakanlah mereka benar tidak tulus dihadapan kita.
Then why? Nothing to lose for us, I think.

Bahwa manusia berusaha lebih kreatif, berusaha melancarkan bisnis, berusaha untuk kehidupannya, apakah itu menjadikan mereka manusia yang tidak baik?
Tidakkah kita pun akan menjaga sikap kita, bahkan pada orang yang TIDAK kita sukai, namun punya pengaruh?
Sebab ini adalah upaya survive dalam kehidupan, tahu bagaimana beradaptasi.
Tentu kita juga tahu bagaimana mencapai itu semua tanpa terjebak menjadi munafik.

Tentu saja, seharusnya seseorang tulus dengan apa yang mereka ucapkan. Dengan apa yang dia lakukan.
Kenapa harus kita membiarkan bisikan-bisikan tadi merusak hati, dan malah melawan prinsip yang pernah kita tanamkan dalam hati kita:
Who am I? To be value or judge person?
Siapa saya? Yang menilai atau meghakimi seseorang?

Dengan menilai orang lain tidak tulus, menilai orang lain bermaksud ini itu, memiliki kepentingan-kepentingan tertentu, mungkin kita benar..
If that’s right, so what’s the importance, what’s the sense for us?

But, how if we do wrong judging?
Semua yang kita anggap bagian dari ketidaktulusan justru merupakan ketulusan?
Wew.. apa pula arti ketulusan??
Apakah ketulusan harus sesuai dengan apa yang KITA inginkan?
Sesuai dengan definisi dan batasan-batasan yang KITA tentukan?
sehingga jika ada yang melakukan sesuatu diluar rambu-rambu yang kita terapkan, kita anggap tidak tulus??
"Kalau dia tulus, harusnya begini dong.."
"Kalau tulus, dia nggak mungki begitu.."

Kenapa ketulusan harus kita yang menjadi juri?’
Harus menurut kacamata kita??
Lalu, dimana kita meletakkan point, menghormati sebuah perbedaan??
Bahwa ada orang lain yang memang berbeda, semata-mata karena upaya untuk menjadi hambaNya yang lebih baik. Dan bukan karena alasan-alasan lain, tanpa bermaksud menyakiti orang lain.
Jika kemudian sikapnya tidak sesuai dengan keinginan kita, kacamata kita, atau apa yang kita percayai, apakah dia mejadi tidak tulus??

Ketulusan itu, biarlah DIA yang menilai sepenuhnya.
Coz it is just too knotty for human’s view.
Manusia, dengan kemampuan fikir, hanya boleh berasumsi, boleh mengira-ira.
But, it is worth considering that
Ya Allah, betapa terbatasnya mata kita. Betapa luasnya pandanganMu.

Really, we occasionally do wrong judging to a person.
"Saya kira, dia suka ini, ternyata tidak.."
"Kelihatannya orangnya biasa-biasa saja ya, ternyata kok pintar.."
Begitu banyak ternyata-ternyata yang lain. Begitu banyak ‘kok-kok’ yang lain.

Buat saya, saya tidak ingin meletekkan kebahagiaan saya di tangan orang lain. Sebuah pujian tidak akan membuat saya bertambah "kaya"; bertambah baik, bertambah cantik, bertambah pintar, bertambah blah..blah..blah..
Sebab saya tahu, di mata Nya, begitu banyak cela dan cacat saya, begitu banyak ketidaksempurnaan saya, begitu kecilnya saya..

Tetapi, sebuah ketidaktulusan tidak boleh menyakiti saya, apalagi mengubah dunia saya, ikhlaskan saja..
Dan jadikan ketidaktulusan yang kita temui -apakah hanya asumsi, atau kemudian terbukti, dimana saja, kapan saja, siapapun yang melakukannya- sebagai pelajaran dan bekal untuk lebih tulus dari hari kemarin..
Sebab saya tidak ingin membuat hati-hati lain retak karena saya bersikap tidak tulus..

SAYA YANG HARUS TULUS, BUKAN ORANG LAIN
SAYA YANG TIDAK BOLEH TIDAK TULUS, BUKAN ORANG LAIN

Sebab saya yang akan bertanggung jawab di hadapanNya nanti, SAYA BUKAN ORANG LAIN..

Even GOD doesn’t plan to judge a man till the end of HIS days, why should YOU and I?